'Cause We're Only Human

Notes: tulisan ini hanya pendapat pribadi, ga bermaksud buat nge-judge, bukan juga buat marah-marah ga jelas, ga bermaksud menghina siapapun, no offense, I'm so sorry kalo ada beberapa kata-kata yang terdengar kasar dan bernada makian, aku percaya ga semua orang punya sifat seperti ini, tapi semoga tulisan ini bisa membuat kita berpikir sebentar (lama juga gapapa sih). Kalo ada saran, kritikan, masukkan, boleh banget dikasih tau :)


"Ih gantengnya/cantiknya.."

"Wih, dia direktur tuh, kebayang kan gajinya berapa banyak..."

"Eh, si X baru married loh. Gila, suaminya udah ganteng, kaya lagi. Bahagia deh.."

"Alah, bayarnya aja pake recehan, gak punya duit aja sok-sok beli segala.."

"First impression lo pas pertama kali liat gue apa?"

As a human yang dikaruniai sepasang mata dan sebuah otak, kita cenderung akan melihat dan menilai seseorang berdasarkan apa yang kita lihat. Dan natur seorang manusia juga, bahwa kita pasti lebih suka melihat yang indah-indah daripada yang kurang indah. Iya kan ya?

Story line 1
Beberapa bulan yang lalu, aku bersama beberapa orang temanku pergi ke sebuah pusat perbelanjaan (just simply read it as "mall"). Kami pergi berlima, 2 perempuan, sisanya laki-laki. Tujuannya, ada yang mau beli kado, ada yang mau beli baju apa celana gitu deh. Nah, karena mall itu begitu 'besar' (sebenernya ga gede gede amat, cuma katakanlah kalo mall itu lumayan besar lah), akhirnya kami berpencar. Yang cewe2 cari kado, yang cowo2 cari baju atau celana. Cari kado itu bukan perkara gampang ternyata. Setiap toko kami lewati, bahkan ada beberapa toko yang kami kunjungi lebih dari satu kali, sampai mbak-mbaknya udah pasang tampang sinis, pokoknya ga enak diliat deh, minta dicolok matanya kali yah. Dan akhirnya, kami nyerah, dan nunggu para pria selesai belanja.

Singkat cerita, kami ngumpul lagi, dan masuk ke toko yang sama. Tapi, respon si mbak2 berubah drastis. Ngeliat ada cowo masuk, apalagi yang 'lumayan', aduh, langsung deh. Nada bicaranya dilembut-lembutin, senyum terus, sampe temenku yang sedari tadi muter-muter bareng bisik-bisik: "Giliran cowo ganteng dateng aja...." dia belum selesai ngomong, langsung kujawab dengan suara lantang, biar didenger sama si mbak2 nya, "langsung beda ya responnya." Padahal in that case, kami sama-sama pembeli, punya uang kok buat bayar, tenang aja. Rasanya pengen bilang gitu ke si mbak2 nya.

Story line 2
Hal ini baru aku alami 2 hari yang lalu. Saat ini aku lagi training atau biar kalian ga bingung, aku lagi magang di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Setiap kali datang, harus tuker baju dengan seragam yang udah disediain sama pihak hotel. Nah, nama tempat penukaran seragamnya itu 'linen'. Setiap pagi, pasti tempat ini rame, karena semua orang pasti butuh seragamnya masing-masing, sebelum mulai kerja. Dan petugas yang jaga linen ini, ya kalo lagi hoki bisa berhadapan sama yang baik, yang ramah. Kalo lagi sial ya udah, pasti ketemunya sama yang judes2, yang mukanya ga enak buat diliat deh (apalagi buat dimakan). Nah, saat itu lagi sial kali ya, ketemunya sama mbak2 (lagi lagi mbak2 ya) yang judesnya minta ampun. Minta baik-baik, dijawabnya judes, bro. Ya udah, aku tanggepin biasa aja. Tapi ternyata si petugas ini emang udah ga niat kerja, apa ngajakkin ribut, apa gimana kali ya, baju seragam yang ku minta dia lempar sampai kena wajahku. Sialan lo! kutukku dalam hati. Lalu, tepat di sebelah kananku ada staff (pekerja tetap) pria yang istilahnya udah punya nama lah di hotel ini, dia juga minta seragam ke petugas yang sama, dan TADAAAA... dasar muka dua, langsung pasang tampang yang jauh beda sama tadi. Nada suara dilembut-lembutin, pake senyum-senyum genit segala, ngasih bajunya juga, boro-boro dilempar, bajunya masih rapi, dan ada lipetan sedikit aja langsung dirapihin lagi. Cari perhatian emang.

Ya memang sih, staff itu punya jabatan yang lebih penting, tapi mbok ya kita kan sama-sama kerja disini, ya ga usah pake lempar2 juga bisa kan yah?

Story line 3
Kalian pernah ga sih perhatiin, kalo lagi belanja atau beli sesuatu, pasti bayarnya pake duit lah ya. Perhatiin deh, sering orang yang bayarnya pake uang recehan dipandang sebelah mata sama si penjual, dibandingkan sama orang yang bayarnya pake beberapa lembar kertas warna merah atau biru, atau bahkan sama yang bayarnya pake kartu yang bisa digesek sana-sini. Padahal nominal harganya sama, dan orang yang bayar pake recehan pun intinya tetep bayar, ga ngutang apalagi nyolong kan? Mungkin si penjual itu ga ngomong langsung, tapi perhatiin deh ekspresi wajahnya saat dia melihat uang recehan dan saat dia melihat uang 100 ribuan atau 50 ribuan. Beda.

Itu sebagian kecil dari cerita yang pernah kudengar bahkan ku alami sendiri. Betapa menyedihkannya manusia di zaman ini. Pikiran semakin sempit, penilaian akhirnya berakhir pada hal yang bisa dilihat lewat mata saja. Iya itu manusia. Aku dan kamu.

Entah ini terdengar agak berlebihan, tapi aku pernah merenungkan hal ini. Bahkan sebelum menulis postingan ini aja aku sedih, mau nangis rasanya, dan akhirnya nangis. Gila, kalo dipikir-pikir kita ini begitu hina. Begitu moron. Bodoh. Egois. Mana? Katanya kita ini makhluk paling berharga? Tapi menghargai manusia lain aja sebegitu susahnya. Seganteng-gantengnya, secantik-cantiknya, sekaya apapun, seterkenal apapun, kita bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Titik.

Akhirnya, manusia berlomba-lomba, menjadi siapa yang paling ganteng, siapa yang paling cantik, siapa yang paling kaya, siapa yang paling terkenal. Saling menjatuhkan satu sama lain. Ketika ga dihargain, responnya? Marah? Dendam? Ingin menjatuhkan orang lain? Berusaha membuktikan bahwa aku lebih hebat?































Lalu aku teringat sesuatu. Aku teringat dengan siapa yang menciptakanku. Ketika Allah Bapa merencanakan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia. Kita semua tau lah ya, Tuhan Yesus lahir di kandang domba. Papanya cuma tukang kayu, mamanya wanita biasa. Kalau kalian telusuri, Yesus menjalani kehidupannya di dunia sebagai manusia biasa, cuma bedanya Dia tidak berdosa, dan punya rencana khusus untuk dunia ini. Tapi sayang, gak semua orang bisa ngerti rencana itu, bahkan murid-muridNya, dan menurutku, di zaman itu, banyak yang memandang Yesus sebelah mata, terutama orang-orang Farisi.

Tiba-tiba pikiran ini muncul, menggelitik hati dan otakku. Aku membandingkan dengan situasi di zaman sekarang. Coba pikirin, gimana kalau Tuhan Yesus datang di zaman ini? Jangankan zaman ini, di zaman dulu aja orang-orang masih susah percaya, gimana zaman sekarang? Hahaha, aku berpikir, mungkin (ini cuma bercanda, no offense) Allah harus merencanakan seorang pria kaya raya, konglomerat dan wanita karir sebagai 'Yusuf dan Maria' di zaman ini, lalu Yesus lahir di hotel berbintang lima, wajah-Nya harus ganteng kaya artis Korea, supaya orang-orang di zaman ini bisa sadar dan mau percaya kali yah.

No. It's not the point. His plans are more than it. Rencana-Nya jauh lebih hebat dibandingkan dengan apa yang bisa kita pikirkan. Bukan hal duniawi, bukan hal yang hanya sekedar bisa dipandang oleh mata.

"Bila rupa yang membuatmu jatuh cinta, bagaimana kamu mencintai Tuhan yang tidak bisa kamu lihat rupanya?"
"Bila harta kekayaan yang membuatmu jatuh cinta, bagaimana kamu mencintai Tuhan yang membuktikan cinta-Nya padamu dengan turun ke dunia dalam kesederhanaan?"

Iya. Dia mengasihi kita. Walaupun pada masa itu orang-orang mungkin melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan 'mbak2' di story line yang tadi kuceritakan, memandang Yesus sebelah mata, tapi Ia tetap membuktikan kasih-Nya. Ia mengasihi bukan soal bagus atau jelek, bukan soal kaya atau miskin, bukan soal terkenal atau tidak, tapi ya memang karena Ia mengasihi kita.

"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati." - 1 Samuel 16:7

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih untuk Segalanya

Bahasa Indonesia